Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Semua tentu sudah mengenal Kota Jogjakarta dan sekitarnya, dimana terletak banyak obyek pariwisata mulai dari Pantai Parangtritis, Keraton Kasultanan Jogjakarta, Kaliurang, Malioboro, Benteng Vredeburg, wisata budaya hingga wisata kulinernya. Apakah hanya itu saja yang diketahui orang tentang Jogjakarta?

Berikut akan penulis paparkan sedikit tentang Jogjakarta, selama penulis tinggal sementara di Jogjakarta (2 tahun). Akan tetapi perlu diketahui bahwa paparan ini dilihat dari sudut pandang dan pengalaman penulis serta tidak bermaksud mempromosikan apapun, jadi sifatnya subyektif dan kalau ada yang tidak sependapat agar tidak dijadikan pertentangan.

IKLIM

Jogjakarta memiliki iklim yang berbeda dengan tempat asal penulis. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh keberadaan Gunung Merapi yang merupakan salah satu gunung aktif di dunia. Ketika musim kemarau, udara terasa panas hanya ketika siang hari antara jam 10.00 – 15.00, selain itu udara terasa dingin walaupun cahaya matahari terlihat sangat terang. Siang saja dingin apalagi malam hari.

Berbeda dengan musim penghujan yang terasa panas jika tidak turun hujan. Penulis pernah mengukur suhu ketika musim penghujan, suhu disiang hari pernah mencapai 35 derajat Celcius dan di malam hari tertinggi 30 derajat Celcius. Sedangkan pada musim kemarau, suhu di siang hari pernah tercatat 24 derajat Celcius dan malam harinya 20 derajat Celcius.

“MUSIM”

Musim di sini maksudnya adalah musim buah-buahan. Salak pondoh merupakan khas jogja tapi apa ada yang lain? Memang ada 2 jenis buah yang banyak ditemukan di jogja tapi bukan merupakan khas jogja, yakni mangga dan rambutan. Ketika musim mangga dan rambutan, semua pohon yang ditanam masyarakat serentak berbuah dan mungkin karena sudah bosan, buah-buah tersebut dibiarkan saja hingga matang di pohon dan dimakan kalong atau jatuh.

Pernah penulis membeli sebuah pohon rambutan sebelum matang (istilahnya: nebas). Ternyata dengan harga yang ditawarkan tidak begitu mahal dengan hasil sekitar 100kg. Rambutan tersebut hampir mirip dengan rambutan Rapiah yang terkenal di Jakarta, keset, tebal dagingnya dan rasanya manis.

SHOPING CENTER

Untuk kegiatan jalan-jalan dan shoping biasa terpusat di Malioboro yang merupakan salah satu ruas jalan yang menghubungkan Stasiun Tugu dengan Keraton Jogjakarta. Pada ruas jalan ini dapat ditemukan berbagai jenis kerajinan, aneka jajanan khas jogja, serta dengan tarif berkisar Rp25.000 – Rp30.000 dapat berkeliling menikmati suasana jogja dari atas kereta kuda/dokar.

Untuk membawa buah tangan, wisatawan dapat juga mengunjungi Pasar Patuk dimana terdapat berbagai penjual oleh-oleh khas Jogja seperti Bakpia Patuk, Geplak, Kue Yangko, dll. Atau datangi counter DAGADU untuk membeli kaos khas Jogja yang berlokasi di Jl. Pakuningratan dan Malioboro Mall. Jika ingin mencari yang DAGADU versi KW, dapat ditemui di berbagai sudut Malioboro. Lantas dimana jika hendak mencari batik?? Datang saja ke Pasar Beringharjo yang terletak di ujung selatan Jl. Malioboro atau naik saja becak yang menyediakan jasa antar ke berbagai tempat oleh-oleh dengan harga yang sangat murah.

Satu hal yang kurang disukai penulis adalah penjual (meskipun tidak semua) di Jogja masih melihat “bondo” (harta) pembeli. Pernah penulis bersama istri (waktu itu naik motor) berniat membeli jajanan di pinggir jalan ternyata dengan Rp5.000 penulis mendapat berbagai macam jajanan dan rasanya enak. Karena ketagihan, lain waktu (naik mobil) penulis mampir untuk membeli ternyata Rp5.000 tidak mendapat barang yang sama ketika pertama kali beli. Penulis berpikir…ooo harga naik ternyata ketika keesokan harinya membeli di tempat yang sama (naik motor) mendapat jumlah yang sama ketika pertama membeli?!?!

KULINER

Jangan pernah berpikir kehabisan akal untuk berwisata kuliner di jogja. Banyak restoran yang menyajikan berbagai menu masakan, maupun warung-warung yang lebih sederhana. Untuk merasakan masakan jawa seperti bakmi godog/goreng dapat mengunjungi Bakmi Pele di Alun-alun Utara atau Bakmi Kadin yang berada di dekat kantor Kadin Jl. Bintaran Kulon.

Bagaimana dengan goreng, bakar atau penyetan? Mau menu ikan, ayam, bebek, lele, tentunya sangat mudah ditemui. Bebek goreng misalnya, ada Bebek Slamet atau Bu Bibit yang ditemani dengan sambal korek…mak nyosssss. Ayam Suharti atau Muara Kapuas yang menawarkan ayam goreng dan menu lainnya.

Ingin menikmati makanan di sekitar Malioboro? Hendaknya pembeli menanyakan harga sebelum memesan, karena masih ada beberapa pedagang nakal yang memanfaatkan wisatawan untuk mengeruk keuntungan. Walaupun dari pihak pemda sudah memberi peringatan agar mencantumkan daftar harga makanan, tapi tetap saja ada pedagang yang nakal.

Atau hanya ingin merasakan sensasi angkringan yang banyak terdapat di pinggir-pinggir jalan. Salah satu angkringan yang terkenal adalah Lek Man yang terletak di utara stasiun tugu, tepat di pinggir tembok stasiun. Menu yang disajikan cukup komplit dan yang paling dicari adalah kopi joss, yakni minuman kopi bercampur arang yang masih membara. Kata “Joss” berasal dari suara yang dihasilkan ketika bara arang dicelupkan ke kopi.

LALU LINTAS

Jogjakarta merupakan kota yang memiliki slogan “everyday is sunday”, jadi jarang ditemui kemacetan kecuali ada libur panjang. Tapi untuk bahasan ini penulis agak kurang senang dengan perilaku berkendara di Jogja, walaupun tidak berbeda dengan kota-kota lain, akan tetapi dengan tingkat kemacetan yang rendah seharusnya pengendara lebih taat kepada peraturan. Banyak pengguna jalan yang tidak menaati peraturan, entah karena belum tahu atau memang tidak mau tahu.

Hampir setiap berkendara, penulis melihat pengendara yang menjalankan kendaraannya dengan kecepatan rendah tapi berada di tengah badan jalan dan ketika di klakson (agar kita bisa mendahului) mereka tetap cuek dan tetap berada di tengah jalan. Belum lagi parkir sembarangan dan melawan arah. Melawan arah rupanya budaya yang sudah umum di negara kita. Hanya bermodalkan alasan menyingkat waktu & BBM maka sudah melegalkan berkendara melawan arah, bahkan di jalur cepat ring road sekalipun.

Pernah suatu ketika (awal di jogja) penulis berada di perempatan dan hendak lurus, ketika kondisi jalan sudah sepi mobil dijalankan tapi tiba-tiba dari sisi kiri belakang ada motor hendak menyalip dan berbelok ke kanan sehingga nyaris terjadi tabrakan. Bukan permintaan maaf yang keluar tapi cacian yang diterima, bahkan biker tersebut membentak dengan basah jawa kasar “heh..goblok…kenapa tidak menyalakan lampu hazard kalau mau lurus?!”.

Lampu hazard??? Lurus??? Bukannya lampu hazard itu hanya untuk keadaan emergency/bahaya? Kenapa bisa menjadi sinyal untuk berjalan lurus?? Setelah penulis perhatikan ternyata kendaraan jika melewati persimpangan dan hendak lurus, maka lampu hazard dinyalakan. Entah bagaimana awalnya hingga menjadi kebiasaan yang salah kaprah seperti ini. Mungkin gambar-gambar di bawah dapat bercerita lebih banyak tentang kondisi lalu lintas dan perilaku pengendara di jogja.

klo mo kenalan bilang aj mbak...ga usah pake malangin motor di depan mobil.

parkir lageee.... (AMPLAZ)

parkir di drop point AMPLAZ

1 motor = 1 mobil

untung cuma ngerem, coba klo sambil belok??

helmku baru jd ga usah dipake..dibawa aj

kirain capek tp koq sepanjang jl. magelang??

mbak pramuka gmn sih?

Advertisements