Tags

, , , , , ,


Setelah heboh dengan kasus “Cicak VS Buaya” sekarang KPK kembali digoyang oleh politisi negeri ini.

“Nyanyian” Nazarudin (tersangka korupsi Wisma Atlet Sea Games) telah menyangkut beberapa nama petinggi KPK, walaupun itu belum dapat dibuktikan kaitannya dengan kasusnya mengingat pertemuan itu dilakukan sebelum terjadinya kasus korupsi. Hal ini sebenarnya lebih kepada pelanggaran kode etik pimpinan KPK yang tidak diperbolehkan bertemu dengan pejabat yang berpotensi menimbulkan conflict of interest.

Belum selesai nyanyian Nazarudin, KPK kembali digoyang oleh politisi dalam negeri. Marzuki Alie, Ketua DPR-RI, melontarkan pernyataan yang membuat gerah para penggiat antikorupsi di negeri ini. Lebih baik KPK dibubarkan jika pemimpinnya tidak memiliki dedikasi dan integritas, demikian pernyataannya. Pemutihan terhadap para koruptor juga disarankan oleh beliau, dengan memaafkan dan diminta mengganti seluruh kerugian negara.

Sungguh ironi memang pemikiran seorang Marzuki Alie yang langsung memvonis sebuah lembaga berdasarkan segelintir orang yang berperilaku tidak pada tempatnya dan konsep “pemaafan” terhadap koruptor.

Tidak mungkin merobohkan rumah ibadah ketika pengurusnya bermain judi di dalamnya. Justru untuk menjaga kesucian rumah ibadah tersebut, para pengurus (sekaligus penjudi) itulah yang seharusnya dipecat dan diperbaiki tingkah lakunya. Demikian juga dengan KPK.

Ketika ditetapkan sebagai koruptor, maka dia memiliki kesalahan terhadap orang lain yang diambil haknya. Jika mengkorupsi uang negara, berarti dia harus meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Tidak cukup hanya dengan mengganti sejumlah nominal yang telah dia korupsi. Dan korupsi itu merupakan tindakan pidana, sehingga hukuman yang dijalani juga hukum pidana….please deh!!

Kita tunggu saja kelanjutannya….

Advertisements