Tags

, , , , , , , , , ,


Bagi komuter Jakarta-Bandung tentunya keberadaan tol Cipularang sangat menguntungkan karena dapat menyingkat waktu dan lebih praktis, akan tetapi rupanya jalan tol yang mulai digunakan pada tahun 2005 ini memiliki sisi lain yang perlu diwaspadai.

Sisi lain dimaksud memang dapat mengarah kepada hal-hal yang berbau misitis, akan tetapi saya hanya menyoroti lebih kepada infrastruktur dan perilaku mengemudi di jalan tol ini. Jalan dengan panjang 59 km ini menghubungkan ruas tol Cikampek dan ruas tol Padalarang – Cileunyi, sehingga jarak tempuh Jakarta-Bandung dapat ditempuh dalam waktu 1,5 – 2 jam.

Pembangunan yang menggunakan sistem Cut & Fill menyebabkan jalan ini memiliki potensi kecelakaan yang sangat tinggi. Sistem Cut & Fill dilakukan untuk daerah yang berbukit dan berlembah, sehingga jalan yang dihasilkan berkontur naik turun dengan banyak tikungan. Jalanan berkontur seperti ini menyebabkan banyak terjadinya longsor, blind spot dan side wind.

Longsor pernah terjadi beberapa kali sehingga menyebabkan turunnya material ke badan jalan atau menciptakan lubang besar pada jalan. Runtuhnya material dikarenakan sisi jalan yang belum di”talud” (penahan tebing), sehingga ketika terjadi hujan maka material akan ikut terkikis. Lubang yang menganga juga pernah terjadi di jalan ini sehingga menyebabkan jalan tol ditutup untuk sementara.

Blind spot disini biasanya terjadi pada malam hari dan pada lokasi tikungan yang menurun. Cahaya lampu, biasanya dari arah Bandung yang menikung dan akan menurun, menyorot tepat di mata pengemudi pada arah berlawanan sehingga tidak dapat melihat jalan dengan jelas. Jika pengemudi berada pada kecepatan tinggi akan sangat membahayakan karena jalan tidak dapat terlihat dengan jelas akibat sorotan lampu. Sebaiknya ketika terjadi hal yang demikian, pengemudi harus mengurangi kecepatan dan berusaha menutupi sorotan lampu dengan tangan misalnya, sehingga dapat memantau kondisi jalan di depannya.

Jika blind spot terjadi pada tikungan yang menurun, maka side wind terjadi pada jalanan yang berada di atas lembah (menghubungkan 2 bukit). Side wind atau angin samping ini sangat membahayakan kendaraan bermotor karena dapat menyebabkan perpindahan jalur secara tiba-tiba atau tanpa disadari. Angin samping ini sangat berbahaya bagi mobil-mobil berbadan tinggi, seperti minibus atau bus, dan sangat berbahaya apabila pengemudi dalam kondisi ngebut sehingga perpindahan jalur ini dapat mengakibatkan kecelakaan tunggal maupun beruntun. Seperti kabar terbaru yang menyebabkan tewasnya Virginia Anggraini, istri pedangdut Saiful Jamil, yang diduga karena angin samping. Olengnya mobil yang dikendarai Saiful Jamil dengan kecepatan 80 km/jam diduga karena tertabrak angin samping sehingga menabrak pembatas jalan.

Adanya mitos atau cerita misteri juga sering berakibat pada terjadinya kecelakaan. Misteri yang sering diperdengarkan rata-rata terjadi pada km 64-70, mulai dari kehilangan anak, “diteror” oleh mobil di belakangnya, hingga melewati terowongan waktu hingga dapat melewati beberapa kilometer dalam beberapa detik. Untuk itu, sebaiknya sopir harus dalam kondisi fit dan pikiran tidak kosong atau melamun. Ada baiknya pendamping selalu mengajak ngobrol ringan sembari memberi informasi kondisi jalan dari perspektifnya.

Kurangnya infrastruktur pada jalan tol ini sering dituding sebagai penyebab terjadinya kecelakaan. Lampu penerangan yang belum 100% terpasang dan rest area yang sangat jauh jaraknya memang menyumbang terjadinya kecelakaan. Dengan banyaknya penerangan, maka kondisi jalan dapat terpantau dengan baik dan rest area yang berjarak relatif dekat dapat mengurangi kepenatan pengemudi. Tapi apakah kekurangan infrastruktur ini akan terus dijadikan kambing hitam? Menurut saya, pengemudi menentukan 95% keselamatan dan hanya 4% berasal dari keberadaan infrastruktur, selebihnya faktor keberuntungan. Jadi apakah masih akan mengkambinghitamkan kekurangan infrastruktur??

Advertisements