Tags

, , , , , , , , , , ,


Menteri Hukum dan HAM hasil reshufle kemarin, Amir Syamsudin, memberikan kebijakan baru dengan menerapkan moratorium (pemberhentian sementara) pemberian remisi kepada tahanan korupsi (koruptor). Tapi rupanya kebijakan ini tidak bisa menghindar dari pro dan kontra.

Kubu pro datang dari penggiat anti korupsi dan pihak-pihak yang menginginkan bebas dari korupsi sementara sejumlah pengacara dan politikus memilih masuk ke kubu kontra. Dapat dipahami bahwa kebijakan yang diambil itu dalam rangka revisi terhadap peraturan perundangan dalam hal pemberian revisi dan sebagai efek jera kepada koruptor.

“Kalau moratorium (remisi) bisa diberikan kepada tahanan teroris, kenapa tidak bisa untuk koruptor?” komentar Amir Syamsudin. Dari komentar tersebut nampak bahwa pak menteri ingin pemberlakuan kebijakan diterapkan pada semua kalangan dan tidak menyalahi aturan. Bahkan beliau memberikan ruang kepada publik untuk yang berniat menggugat kebijakan yang telah ditetapkan.

Rupanya hukum yang dijadikan panglima dalam menegakan kebenaran masih diragukan keperkasaannya. Apalagi ditambah adanya berita sejumlah koruptor yang divonis bebas oleh pengadilan tipikor, diantaranya Muchtar Muhammad yang baru saja dibebaskan oleh pengadilan tipikor bandung.

Jika kita bicara logika, maka tidak saja remisi itu haram buat koruptor, melainkan tambahan hukuman yang harus diberikan. Berapa jumlah rakyat yang harus merasakan kerugian karena kehilangan manfaat yang seharusnya diterima. Salah seorang peneliti ICW, Febri, mengusulkan hukuman sosial seperti menyapu jalan seperti halnya yang dilakukan di negara-negara maju. Bahkan Sujiwo Tedjo mengusulkan, harusnya koruptor itu dihukum dengan dikucilkan atau dihilangkan namanya. “Panggil saja dia “HOI”, lama kelamaan dia akan mati juga, secara sosial dan akhirnya mati beneran” begitu selorohnya di forum Indonesia Lawyers Club.

Pergeseran nilai-nilai moral memang telah melanda negeri ini. Jaman saya kecil dulu, yang namanya pencuri di kampung saya setelah tertangkap dan bebas, dia pasti minder untuk bersosialisasi. Hal itu disebabkan masih ditanamkannya rasa malu oleh orang tua kita. Berbeda dengan sekarang yang lebih mengutamakan prestasi akademik ketimbang pendidikan moral. Contoh lagi, artis korea yang diberitakan memiliki foto-foto dirinya yang berbau seks. Setelah berita tersebut muncul, maka artis tersebut tidak laku di berbagai media dan akhirnya bunuh diri. Berbeda dengan kondisi di negara kita yang sudah jelas-jelas berbuat tapi tidak mengaku dan masih laku di berbagai media….sungguh ironis. Yakin perbuatan itu tidak diulang lagi? Kalau yang dimaksud proses merekamnya tentu tidak, tapi bagaimana dengan perbuatannya itu sendiri??

Advertisements