Tags

, , , ,


akhir-akhir ini surat kabar dipenuhi dengan berita yang berkaitan dengan kasus pencurian yang dilakukan oleh anak-anak. kasus AAL yang dituduh mencuri sandal milik aparat TNI hingga kasus gantung diri yang dilakukan oleh kakak beradik yang dituduh mencuri kotak amal dan sepeda motor. apakah ini pertanda buruknya sistem pendidikan kita, lingkungan atau lemahnya sistem keamanan di sekitar kita?

dalam kasus AAL, tidak seharusnya seorang aparat menginterogasi dengan kekerasan (jika terbukti) karena seharusnya mereka lebih tahu prosedur interogasi apalagi terhadap anak di bawah umur. yang mungkin perlu disesali adalah gerakan “Pengumpulan 1000 Sandal” yang dilakukan untuk mendukung AAL. efek yang terjadi dari gerakan tersebut adalah AAL tidak merasa bersalah atas perbuatan mencuri (pengakuannya) yang telah dilakukannya dan AAL bisa saja berpikir, “Ah…masih ada yang menganggap saya benar dan mendukung saya”.

efek ini yang sebenarnya harus dikawatirkan karena dapat saja bersifat permanen pada si anak. gerakan tersebut seharusnya bukan untuk mendukung AAL karena dihukum sebagai akibat mencuri melainkan dukungan untuk anti kekerasan oleh aparat. bagaimanapun juga seorang pencuri harus tetap dihukum, walaupun itu seorang anak-anak, karena harus dimunculkan efek jera agar tidak terulang lagi. hanya saja hukuman yang diberikan tidaklah seberat jika yang melakukan orang dewasa yang sudah mapan dalam berpikir dan bertindak.

pihak aparat juga seharusnya memberikan hukuman disiplin terhadap angotanya yang melakukan kekerasan terhadap anggota masyarakat (jika terbukti), karena secara tidak langsung memperburuk citra penegak hukum secara keseluruhan. jika yang dikenakan adalah sanksi administratif, maka efek jera yang diharapkan muncul tidak terjadi. bahkan bisa saja oknum tersebut dendam kepada korban dan keluarganya.

pihak keluarga juga hendaknya tidak semata-mata menyalahkan oknum aparat, hanya berlandaskan pengetahuan (terbatas) mereka terhadap anak-anaknya. “Saya tak yakin mereka gantung diri. Bukan seperti itu anak saya,” kata Yusmanidar, ibu dari kakak beradik yang gantung diri di tahanan Polsek Sijunjung. pengetahuan orang tua terhadap anak itu bisa dikatakan tidak lebih dari 25% tabiat asli si anak, mengapa? dalam 24 jam, orang tua itu hanya dapat melihat dan mengamati perilaku anak selama maksimal 5 jam. selebihnya tidak diketahui oleh orang tua.

perilaku anak di depan orang tua sangat dipengaruhi oleh perkembangan kehidupannya dari bayi hingga saat tertentu. anak yang terbiasa dimarahi/terkekang oleh orang tuanya cenderung untuk berlaku sopan di depan orang tuanya, sementara si luar rumah dia akan bertindak sebaliknya. sementara di sekolah si anak pun tidak mendapatkan pelajaran budi pekerti yang cukup, sehingga lengkap sudah.

Advertisements