Tags

, , , , , , , , , , , , , , ,


Indonesia saat ini tengah diguncang dengan isu rencana kenaikan BBM (baca: BBM bersubsidi) yang akan diberlakukan pada tanggal 1 April 2012. Pemerintah mengusulkan kenaikan sebesar Rp1.500,- sehingga harga BBM menjadi Rp6.000,-/liter.

Rencana kenaikan ini dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang berkisar di angka US$120/barel sedangkan APBN menggunakan asumsi US$90/barel, ditambah dengan konsumsi BBM sebesar 38,5juta kiloliter atau meningkat 2,7juta kiloliter dibanding tahun 2010. Kondisi ini mengharuskan negara memberikan subsidi sebesar Rp191,1triliun dari Rp123,6triliun yang dianggarkan. Opsi yang diajukan oleh Pemerintah salah satunya adalah menaikkan harga BBM.

Fluktuasi harga BBM sebenarnya sudah terjadi sejak dulu, bahkan di era Megawati dan SBY harga BBM sudah beberapa kali mengalami penyesuaian.

Pada era Megawati, BBM mengalami kenaikan pada (Koran Tempo, 28 Maret 2012, hal 1)

  • 1 Maret 2002 diberlakukan kenaikan harga BBM sehingga harga premium menjadi Rp1.550,- (dari Rp1.450,-), solar menjadi Rp1.150,- (dari Rp 900,-) dan minyak tanah menjadi Rp1.270,- (dari Rp400,-)
  • 1 April 2002 diberlakukan kenaikan harga BBM sehingga harga premium menjadi Rp1.600,- solar menjadi Rp1.240,- dan minyak tanah menjadi Rp1.310,-
  • 3 Mei 2002 diberlakukan kenaikan harga BBM sehingga harga premium menjadi Rp1.750,- solar menjadi Rp1.390,- dan minyak tanah menjadi Rp1.410
  • 1 Januari 2003 diberlakukan kenaikan harga BBM sehingga harga terhadap premium menjadi Rp1.810,- dan solar menjadi Rp1.890,-

Pada era SBY, BBM mengalami penyesuaian pada (Koran Tempo, 28 Maret 2012, hal B2)

  • Mei 2008, kenaikan harga minyak di level US$121/barel menaikkan premium menjadi Rp6.000,-
  • 15 Desember 2008, harga minyak menurun di level US$95,87/barel sehingga premium ikut turun menjadi Rp5.000,-
  • 15 Januari 2009 dilakukan penyesuaian kembali harga premium menjadi Rp4.500,- hingga sekarang

Pakar ekonomi Kwik Kian Gie dalam blognya mengatakan bahwa Pemerintah masih menangguk untuk atas kenaikan harga minyak mentah dunia sebesar Rp96,8triliun. Akan tetapi banyak pula yang berpendapat bahwa jika harga BBM tidak dinaikkan, maka pembangunan infrastruktur tidak akan bertambah secara signifikan.

Perhitungan Kwik Kian Gie memang benar secara matematis, tapi negara ini tidak bisa berjalan hanya bermodalkan matematis. Banyak infrastruktur yang harus dibangun/direhabilitasi, banyak pengangguran yang membutuhkan lapangan kerja, banyak penduduk miskin yang masih memerlukan bantuan, dan yang paling penting adalah perlunya peningkatan produktivitas ekonomi secara nasional.

Saya pribadi melihat, kenaikan harga BBM lebih kepada kepentingan masyarakat dan kondisi perekonomian nasional, dan selama ini yang menikmati adalah orang berduit. Banyak pemilik mobil mewah yang masih memberikan premium sebagai konsumsi harian pada tunggangannya, belum lagi akhir-akhir ini banyak terjadi penimbunan BBM di beberapa tempat. Bahkan ada indikasi penyelundupan ke luar negeri. TANYA KENAPA? Karena harga BBM kita yang masih murah. Malaysia contohnya, BBM dihargai Rp5.753,-/liternya. jika ada masyarakat yang memperdagangkan BBM ke Malaysia, maka untung yang didapat adalah Rp1.253,-/liter. Dengan berbekal 5 mobil tangki BBM setara 0,5juta liter (harga resmi), maka orang tersebut akan mendapat keuntungan sekitar Rp600juta. MENARIK BUKAN???

Rencana kenaikan ini juga ditunjang dengan adanya kompensasi bantuan kepada masyarakat miskin dalam bentuk Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) untuk menaikkan daya beli sebagai dampak inflasi akibat kenaikan harga barang. Faktor pencetus meningkatnya konsumsi BBM adalah karena masyarakat mengeluhkan kemacetan, kenyamanan, dan keamanan selama dalam perjalanan sehingga memilih menggunakan angkutan pribadi. Belum lagi ditambah adanya kredit kendaraan bermotor yang sangat dipermudah.

Rencana kenaikan ini direspon oleh masyarakat, dan reaksi paling keras ditunjukkan oleh mahasiswa. pada tanggal 27 Maret 2012, mahasiswa dan beberapa elemen masyarakat melakukan demo di seputaran istana presiden. Akan tetapi oleh aparat keamanan secara perlahan digeser hingga menjauhi istana hingga puncaknya terjadi kerusuhan di depan stasiun Gambir yang diwarnai dengan lemparan batu dan bom molotov ke arah polisi dan dibalas dengan tembakan gas air mata dan semprotan water canon oleh aparat.

Pada hari ini, 30 Maret 2012, mahasiswa merencakanan akan mengadakan aksi serupa bahkan dengan masa lebih besar. Sudah banyak mahasiswa dari wilayah lain menyatakan kesediaannya bergabung di jakarta untuk melakukan demo yang mengatasnamakan rakyat.

Secara prinsip, demo akan berujung indah jika tidak disertai kerusuhan. Tapi jika pendemo sudah merencanakan kerusuhan dengan membawa batu, bom molotov, atau apapun itu artinya sudah merencanakan makar.

jangan beralasan, “JIKA TIDAK BEGITU KITA TIDAK DIDENGAR”.

bagaimana didengar jika yang dikatakan tidak berdasar fakta & argumen yang kuat?

bagaimana didengar jika Anda berteriak-teriak?

bagaimana didengar jika rakyat yang diatasnamakan ternyata tidak mendukung demo itu?

Sebagai seorang mahasiswa, akan ideal jika ide-ide itu disertai dengan pencarian fakta dan penelitian sehingga dapat dipertanggungjawabkan, tidak hanya mengandalkan kekuatan otot. Untuk melakukan demo pun sudah seharusnya didukung dengan logistik yang memadai sehingga tidak mudah ditunggangi oleh pihak-pihak lain. Bayangkan jika untuk berisitirahat saja harus “numpang” di kantor lembaga bantuan hukum, bahkan untuk logistik hanya mengandalkan ngamen di jalan? (Koran Tempo, 29 Maret 2012,hal A3)

Sebagai seorang intelek, saya mengajak para mahasiswa untuk berpikir lebih dewasa.

Apakah dengan merusak fasilitas umum, menduduki kantor pemerintah, atau menjarah itu akan menyelesaikan masalah? Kalau iya, berarti Anda menginginkan kemunduran.

Apakah Anda merasa bahwa Anda didukung oleh pihak yang katanya sepemikiran dengan Anda? Kalau iya, coba lihat dimana mereka saat Anda berjibaku dengan aparat penegak hukum.

Apakah sejarah 1998 perlu diulang kembali, dan Anda sebagai pion yang berada di barisan depan? Kalau iya, persiapkan diri Anda untuk menjadi orang yang paling terakhir tertawa karena pihak-pihak di belakang Anda sudah bersiap-siap menikmati kemenangan berkat “kerja keras” Anda.

Advertisements