Tags

, , , , , ,


Ibadah puasa di bulan Ramadhan seringkali terganggu dengan aktivitas menjelang Idul Fitri (lebaran), baik itu membeli perlengkapan lebaran maupun untuk persiapan mudik. Tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk membiayai kegiatan tersebut, sehingga laju inflasi sangat dipengaruhi olehnya. Pihak BI mencatat peredaran uang selama lebaran 2012 sebesar Rp442,6 triliun.

Besarnya jumlah peredaran uang juga dapat dilihat dari meningkatnya jumlah pemudik, baik yang menggunakan sarana angkutan umum maupun kendaraan pribadi. Pada H-4, jalanan sudah dipadati oleh pemudik yang ingin berlebaran di kampung halaman. Banyak kendaraan pribadi yang digunakan untuk mudik tidak terkecuali motor, bahkan bajaj pun digunakan untuk mudik. Dengan data tersebut, tidak salah jika mantan Wapres Jusuf Kalla berasumsi bahwa dengan kenaikan pendapatan dan rendahnya harga BBM maka mengakibatkan peningkatan jumlah pemudik. Tapi apakah ini kesalahan Pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM?? Mungkin masih ingat di benak kita bahwa Pemerintah sudah akan menaikkan harga BBM ke harga yang lebih rasional, tapi demo yang dilakukan mahasiswa & sebagian anggota DPR telah menggagalkan kebijakan tersebut. (baca: Reaksi Terhadap Rencana Kenaikan BBM)

Disamping peredaran uang yang sangat besar, tradisi mudik yang didominasi oleh kendaraan pribadi ini juga diwarnai oleh kecelakaan. Selama arus mudik dan arus balik (11-26 Agustus 2012), pihak kepolisian mencatat 908 orang meninggal, 1.505 orang luka berat, 5.139 orang luka ringan. Kerugian materil akibat ini diperkirakan Rp 11.815.475.012. Diantara 908 pemudik yang tewas kecelakaan, sebagian besar diantaranya adalah para pemotor. Pihak kepolisian tentu sudah berupaya dengan keras untuk mengatur lalu lintas sehingga perjalanan mudik dapat dilalui dengan lancar, tapi kenyataan di lapangan tidak semudah yang dibayangkan karena jumlah pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi semakin banyak.

Belum lagi kurangnya tingkat kesadaran akan keselamatan mengemudi yang rendah juga menjadi pemicu kecelakaan yang terjadi di perjalanan. Dalam perjalanan mudiknya, penulis melihat banyak pengendara kendaraan bermotor terutama pengguna motor yang tidak mengindahkan aturan lalu lintas, seperti berboncengan 3 orang dan membawa beban melebihi kapasitasnya. Pada dasarnya, motor didesain tidak untuk penggunaan jarak jauh (kecuali motor tertentu atau yang sudah dimodifikasi), beban tertentu, dan dinaiki oleh maksimal 2 orang. Tapi pada kenyataannya yang menaiki motor tersebut lebih dari 2 orang dengan peranti keselamatan seadanya, beban berlebih, serta jarak tempuh rata-rata di atas 200 km.Dengan beban yang berlebih maka motor tidak dapat melakukan manuver yang lincah dan akan menambah beban si pengemudi, sehingga secara fisik pengemudi menjadi cepat lelah dan menurun tingkat konsentrasinya. Keinginan untuk sampai di tempat tujuan dengan cepat juga menjadi faktor ketidakinginan untuk beristirahat yang sebenarnya sangat diperlukan. Belum lagi kesadaran untuk berbagi jalan dengan pengguna jalan lainnya, seperti club-club motor yang mengadakan mudik bareng. Jika pemimpin  perjalanan sudah mendapat jalur , maka anggota lain akan berusaha mengikutinya dengan menyuruh paksa pengguna jalan lainnya untuk memberi jalan. Mungkin sah-sah saja itu dilakukan sepanjang kondisi jalan relatif sepi dan memungkinkan, akan tetapi menjadi tidak etis dan terkesan berandalan ketika banyak orang juga berkepentingan menggunakan jalan tersebut.

Akan lebih baik jika Pemerintah menyediakan sarana transportasi yang memadai dan dapat mengakomodir kebutuhan pemudik. Sehingga diharapkan dapat mengurangi simpul-simpul kemacetan, menurunkan angka kecelakaan, dan masyarakat tetap dapat melaksanakan ibadah puasa dengan khidmat.

Advertisements